Jilbab Biadab??(II)
Dan ternyata sulit untuk memaknai Jilbab Biadab itu seperti apa.
Sampai sekarang saya masi bingung tentang pemaknaannya..
Apakah jilbab biadab adalah seorang wanita berjilbab yang...aahh..ntahlah,APA SIH JILBAB BIADAB ITU??
Sunday, August 31, 2008
Kritik terhadap kritikus Ahmad Dhani
Kritik terhadap kritikus Ahmad DHani
Seni itu soal selera. Seorang musikus avant-garde bisa saja mencerca semua musik yang ada di dunia sebagai “dangkal” dan “tidak original”. Pada saat yang sama, orang kebanyakan juga bisa mencerca orang itu – katakanlah lulusan IKJ, ISI, atau sekolah musik bergengsi di Eropa sana — sebagai megalomaniak kesepian yang kerjanya beronani dalam berkesenian. Hidup Kangen Band! :D
Seniman juga tidak pernah lepas dari kontroversi. Beethoven, misalnya, adalah seorang komposer yang sangat emosional dan tidak setia pada perkawinannya. Wagner, komposer gila ini juga punya kontroversi; cinta segitiga antara dirinya, istrinya Cosima dan Nietzsche! Bapak gitar dunia, Andre Segovia, tidak pernah mau mengakui virtuositas komposer asal Paraguay, Agustin Barrios Mangore, itu melebihi Franceso Tarrega, meskipun murid terbaik Segovia, John William, berpendapat sebaliknya.
Kata Jubing Kristianto, gitaris lokal kita, Segovia [asli Spanyol, asli Kaukasian] mungkin sombong karena Barrios dari negara pos-kolonial. Tidak semua orang suka Segovia. Meskipun ia disebut sebagai bapak gitar karena telah memberi instrumen kelas dua itu tempat layak dalam ranah musik klasik, banyak gitaris sekarang yang mengatakan bahwa permainan gitarnya “buruk”, apalagi kalo dibandingkan murid-muridnya. Tentu gitaris ortodoks yang memuja Segovia akan protes, “anda tidak punya otoritas untuk mengkritik sang maestro!” Musik memang bukan sepak bola, tapi siapapun berhak mengkritik.
Kalo mengkritik Ahmad Dhani? Apalagi cuma Ahmad Dhani, Segovia aja dikritik. Tapi sayang, kritik terhadap karya Ahmad Dhani tidak lebih dari komentar sinis dari mereka yang merasa terganggu dengan tabiatnya. Prihatin, karena pada akhirnya yang muncul adalah arogansi kritikus Dhani [yang lebih kronik dari Dhani!!] dan, yang paling menyedihkan, keengganan untuk menghargai musisi lokal. Dhani biasa disebut plagiator. Ada beberapa hal yang perlu dicatat [gak pede untuk menggunakan kata ‘diluruskan’] tentang tuduhan ini.
Tentang Plagiat
Kata kamus Encarta, “plagiarism” adalah, “copy something from other person’s work: to copy another person’s idea or written work and CLAIM IT AS ORIGINAL.” Kalo kata Webster, “plagiarism” adalah “to steal and pass off (the ideas or words of another) as one’s own : use (another’s production) WITHOUT CREDITING THE SOURCE. (Kapitalisasi dari saya.)
Apakah Dhani plagiat? Untuk membuktikan seseorang plagiat tidak mudah karena anda harus mengkonfirmasi si seniman apakah dia mengaku-ngaku bahwa karyanya 100 persen original atau tidak, atau apakah ia menyebut sumber dari lirik atau nada yang anda tuduh diplagiat oleh si seniman itu.
Orijinalitas itu barang langka apalagi dalam budaya pop. Eklektikisme yang berlaku. Saya pernah berbincang dengan Paul Van Dyke, musikus elektronik yang suka “memberi nyawa baru pada musik-musik orang lain”. Dia sangat “humble”, tetapi percaya diri bahwa ngeDJ itu juga seni dan tentunya merasa bahwa ada orijinalitas di situ.
Kritikus Dhani biasanya berangkat dari asumsi bahwa Dhani mengakui karyanya 100 persen original, asli dari “inner imagination” dia. Ini kesalahan mereka. Dari awal, Dhani sudah menunjukkan kecenderungan dia pada Queen, U2, Toto atau The Beatles – yang semuanya juga tidak suci dari inspirasi band-band/musik/musisi pendahulu mereka.
Ketika mendengar lagu “Sembilan Hari” dari album Format Masa depan, saya tahu itu pasti terinspirasi dari lagu “Long Away” dari album A Day at the Races. Kalo saya tanya langsung ke Dhani apakah benar begitu, lalu dia bilang “gak kok, itu asli 100 persen original”. Dia seorang plagiat. Tapi kan Dhani sering banget bikin tribute untuk Queen dan albumnya terpampang foto Queen. Bisa dibilang dia sudah mengakui inspirasi itu, meski tidak harus secara verbal. Kasusnya beda ama Melly yang mengaku belum pernah mendengar “Liebesleid” (‘The Sadness of Love’) karya Kreisler yang melodinya sama banget sama reff lagu “Ada Apa Dengan Cinta”.
Meminjam dan Mencuri
Harus dibedakan antara “borrowing” dan “stealing” seperti kita membedakan “breaking” dan “entering”.
Anda bertanya, adakah orijinalitas dalam karya-karya Dhani? Nah pertanyaan ini sebenarnya sulit dijawab, karena sangat tergantung pada wawasan musik seseorang. Seperti kata Ananda Sukarlan, yang mengutip Stravinsky, “good composers don’t borrow, they steal.” Ananda bilang bahwa Rapsodia Nusantara No. 1 (dia klaim sebagai karya dia) itu merupakan lagu yang terinspirasi dari lagu Kicir-kicir dan Si Jali-Jali. Pada beberapa bagian, melodinya sama persis. Franz Liszt juga bikin Hungarian Rhapsody yang terpengaruh lagu Rakyat Polandia.
Dalam hal ini, Dhani, Ananda atau Franz Liszt itu “meminjam”, karena memang ketahuan jelas banget. Tetapi bukan berarti karya mereka tidak original sama sekali atau mereka plagiat! Mungkin ada yang mereka curi, tetapi kita tidak tahu. Itu rahasia komposer dan penulis lagu.
Ada beberapa lagu Dhani yang terdengar sangat original [misalnya Kuldesak atau Kasidah Cinta], tapi saya menduga pasti ada inspirasinya. Tapi wawasan musik saya tidak seluas Dhani. As a pop-rock song writer, Dhani is quite erudite. I sense ingenuity in his music, in the way he mystically and aesthetically mixed Led Zeppelin and the Great Sufis of Islam. Tapi ini soal selera, anda tentu boleh bilang musik Dhani basi, katrok atau kacangan. You have the civil and aesthetical rights to express your judgment.
Eh, kalo mencela Dhani? Yah, terserah. Mau bilang dia berengsek, arogan, megalomaniak, bengal, gila, imbecile, it’s none of my business. Itu semua bersifat slanderous dan, seperti yang suka dikatakan ahli debat di blogosphere, ad hominem. Bukan untuk diperdebatkan. Tapi bisa dibawa ke pengadilan [oleh Dhani dan Front Pembela Ahmad Dhani yang fanatik. Hehe…].
Diambil dari :http://gentole.wordpress.com/
Seni itu soal selera. Seorang musikus avant-garde bisa saja mencerca semua musik yang ada di dunia sebagai “dangkal” dan “tidak original”. Pada saat yang sama, orang kebanyakan juga bisa mencerca orang itu – katakanlah lulusan IKJ, ISI, atau sekolah musik bergengsi di Eropa sana — sebagai megalomaniak kesepian yang kerjanya beronani dalam berkesenian. Hidup Kangen Band! :D
Seniman juga tidak pernah lepas dari kontroversi. Beethoven, misalnya, adalah seorang komposer yang sangat emosional dan tidak setia pada perkawinannya. Wagner, komposer gila ini juga punya kontroversi; cinta segitiga antara dirinya, istrinya Cosima dan Nietzsche! Bapak gitar dunia, Andre Segovia, tidak pernah mau mengakui virtuositas komposer asal Paraguay, Agustin Barrios Mangore, itu melebihi Franceso Tarrega, meskipun murid terbaik Segovia, John William, berpendapat sebaliknya.
Kata Jubing Kristianto, gitaris lokal kita, Segovia [asli Spanyol, asli Kaukasian] mungkin sombong karena Barrios dari negara pos-kolonial. Tidak semua orang suka Segovia. Meskipun ia disebut sebagai bapak gitar karena telah memberi instrumen kelas dua itu tempat layak dalam ranah musik klasik, banyak gitaris sekarang yang mengatakan bahwa permainan gitarnya “buruk”, apalagi kalo dibandingkan murid-muridnya. Tentu gitaris ortodoks yang memuja Segovia akan protes, “anda tidak punya otoritas untuk mengkritik sang maestro!” Musik memang bukan sepak bola, tapi siapapun berhak mengkritik.
Kalo mengkritik Ahmad Dhani? Apalagi cuma Ahmad Dhani, Segovia aja dikritik. Tapi sayang, kritik terhadap karya Ahmad Dhani tidak lebih dari komentar sinis dari mereka yang merasa terganggu dengan tabiatnya. Prihatin, karena pada akhirnya yang muncul adalah arogansi kritikus Dhani [yang lebih kronik dari Dhani!!] dan, yang paling menyedihkan, keengganan untuk menghargai musisi lokal. Dhani biasa disebut plagiator. Ada beberapa hal yang perlu dicatat [gak pede untuk menggunakan kata ‘diluruskan’] tentang tuduhan ini.
Tentang Plagiat
Kata kamus Encarta, “plagiarism” adalah, “copy something from other person’s work: to copy another person’s idea or written work and CLAIM IT AS ORIGINAL.” Kalo kata Webster, “plagiarism” adalah “to steal and pass off (the ideas or words of another) as one’s own : use (another’s production) WITHOUT CREDITING THE SOURCE. (Kapitalisasi dari saya.)
Apakah Dhani plagiat? Untuk membuktikan seseorang plagiat tidak mudah karena anda harus mengkonfirmasi si seniman apakah dia mengaku-ngaku bahwa karyanya 100 persen original atau tidak, atau apakah ia menyebut sumber dari lirik atau nada yang anda tuduh diplagiat oleh si seniman itu.
Orijinalitas itu barang langka apalagi dalam budaya pop. Eklektikisme yang berlaku. Saya pernah berbincang dengan Paul Van Dyke, musikus elektronik yang suka “memberi nyawa baru pada musik-musik orang lain”. Dia sangat “humble”, tetapi percaya diri bahwa ngeDJ itu juga seni dan tentunya merasa bahwa ada orijinalitas di situ.
Kritikus Dhani biasanya berangkat dari asumsi bahwa Dhani mengakui karyanya 100 persen original, asli dari “inner imagination” dia. Ini kesalahan mereka. Dari awal, Dhani sudah menunjukkan kecenderungan dia pada Queen, U2, Toto atau The Beatles – yang semuanya juga tidak suci dari inspirasi band-band/musik/musisi pendahulu mereka.
Ketika mendengar lagu “Sembilan Hari” dari album Format Masa depan, saya tahu itu pasti terinspirasi dari lagu “Long Away” dari album A Day at the Races. Kalo saya tanya langsung ke Dhani apakah benar begitu, lalu dia bilang “gak kok, itu asli 100 persen original”. Dia seorang plagiat. Tapi kan Dhani sering banget bikin tribute untuk Queen dan albumnya terpampang foto Queen. Bisa dibilang dia sudah mengakui inspirasi itu, meski tidak harus secara verbal. Kasusnya beda ama Melly yang mengaku belum pernah mendengar “Liebesleid” (‘The Sadness of Love’) karya Kreisler yang melodinya sama banget sama reff lagu “Ada Apa Dengan Cinta”.
Meminjam dan Mencuri
Harus dibedakan antara “borrowing” dan “stealing” seperti kita membedakan “breaking” dan “entering”.
Anda bertanya, adakah orijinalitas dalam karya-karya Dhani? Nah pertanyaan ini sebenarnya sulit dijawab, karena sangat tergantung pada wawasan musik seseorang. Seperti kata Ananda Sukarlan, yang mengutip Stravinsky, “good composers don’t borrow, they steal.” Ananda bilang bahwa Rapsodia Nusantara No. 1 (dia klaim sebagai karya dia) itu merupakan lagu yang terinspirasi dari lagu Kicir-kicir dan Si Jali-Jali. Pada beberapa bagian, melodinya sama persis. Franz Liszt juga bikin Hungarian Rhapsody yang terpengaruh lagu Rakyat Polandia.
Dalam hal ini, Dhani, Ananda atau Franz Liszt itu “meminjam”, karena memang ketahuan jelas banget. Tetapi bukan berarti karya mereka tidak original sama sekali atau mereka plagiat! Mungkin ada yang mereka curi, tetapi kita tidak tahu. Itu rahasia komposer dan penulis lagu.
Ada beberapa lagu Dhani yang terdengar sangat original [misalnya Kuldesak atau Kasidah Cinta], tapi saya menduga pasti ada inspirasinya. Tapi wawasan musik saya tidak seluas Dhani. As a pop-rock song writer, Dhani is quite erudite. I sense ingenuity in his music, in the way he mystically and aesthetically mixed Led Zeppelin and the Great Sufis of Islam. Tapi ini soal selera, anda tentu boleh bilang musik Dhani basi, katrok atau kacangan. You have the civil and aesthetical rights to express your judgment.
Eh, kalo mencela Dhani? Yah, terserah. Mau bilang dia berengsek, arogan, megalomaniak, bengal, gila, imbecile, it’s none of my business. Itu semua bersifat slanderous dan, seperti yang suka dikatakan ahli debat di blogosphere, ad hominem. Bukan untuk diperdebatkan. Tapi bisa dibawa ke pengadilan [oleh Dhani dan Front Pembela Ahmad Dhani yang fanatik. Hehe…].
Diambil dari :http://gentole.wordpress.com/
Subscribe to:
Posts (Atom)